Sumber: haryanto_ilyasa@yahoo.co.id (Milis Forum Peternak Sapi Indonesia)

Y&Y_Wagyu+bullSetelah menunggu lebih dari dua tahun, akhirnya proyek penggemukan sapi senilai 4 juta dolar AS yang ditawarkan dalam Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2006 bisa direalisasikan tahun ini. Tarik ulur para investor asing menjadi persoalan untuk bisa menggaet investasi baru khususnya di bidang agrobisnis. Salah satu investor Australia perwakilan THP Group Robert Murdoch mengakui, persoalan investasi di Indonesia selalu dibayangi dengan kerumitan perbedaan budaya, masalah lahan dan izin birokrasi yang sangat berbelit. Proyek penggemukan sapi ini adalah satu di antara sekian banyak proyek yang berhasil terealisasi lewat sebuah forum bisnis CJIBF yang diakui kredibilitasnya.  Robert menilai, meski nilai jutaan dolar yang ditanamkan dinilai masih relatif kecil, tapi tetap saja pemerintah Australia memberikan apresiasi positif. Apalagi Pemprov Jateng yang terus mendesak program ini bisa segera terealisasi. Sebelumnya Gubernur Bibit Waluyo menginginkan setidaknya dalam dua bulan ke depan, tahap awal penggemukan sapi yang dikonsentrasikan di Kab Temanggung ini bisa dikerjakan. Baca Lanjutannya…

Oleh: RD | Agustus 10, 2009

Rencana Pembibitan Sapi Wagyu di Temanggung

Sumber : Kompas 31 Juli 2009

Temanggung, Kompas – Pusat pembibitan sapi wagyu di Kabupaten Temanggung akan disebar di tiga lokasi. Ketiga tempat tersebut adalah Medari di Kecamatan Ngadirejo, dan daerah Maron serta Walitelon di Kecamatan Temanggung. Bupati Temanggung Hasyim Affandi mengatakan, ketiga lokasi ini sudah dipilih dan disetujui oleh pihak rekanan yang merupakan investor dari Australia. “Lokasi di Walitelon nanti dapat dijadikan sebagai kandang dan pabrik pakan mini. Lokasi di Maron dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium dan etalase sapi, areal sisanya dapat dimanfaatkan sebagai lahan yang menghasilkan hijauan untuk pakan ternak,” ujar Hasyim, Jumat (31/7). Baca Lanjutannya…

Sumber : http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=176

TEMANGGUNG, Dampak kekeringan yang melanda Kabupaten Temanggung  tahun ini, tidak saja dirasakan warga  sejumlah desa yang kesulitan mendapatkan air bersih. Namun sejumlah peternak kambing dan sapi  juga sudah mulai kesulitan mendapatkan rumput. Akibatnya  pertenak  terpaksa memberi pakan hewan piaraanya dengan daun pohon karet  yang  ada pinggir jalan desa. Hal itu sebagaimana dilakukan peternak di Desa Sanggarahan Kecamatan Kranggan. Pohon karet yang daunnya dimanfaatkan oleh peternak, sesunguhnya merupakan pohon ayoman pinggir jalan. Namun terpaksa  dipetik daunnya  untuk pakan ternak baik kambing maupun sapi. Para  peternak  setiap hari memanjat pohon karet tersebut untuk  memotong daun-daunnya  yang rimbun menggunakan galah dan sabit. Pekerjaan ini sebenarnya beresiko, bila sewatu-waktu saat memanjat jatuh. Akan tetapi peternak  sudah terbiasa, sehingga tidak takut akan resiko jatuh. Baca Lanjutannya…

Oleh: RD | Agustus 10, 2009

Beternak Sapi Menjanjikan Keuntungan Besar

Sumber:   http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=174

TEMANGGUNG, Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi mengemukakan, usaha peternakan  sapi  menjanjikan keuntungan yang lumayan  besar manakala dikelola secara  baik dan benar. Dengan demikian  melalui kegiatan usaha peternakan warga berpeluang mendapat penghasilan guna meningkatkan kesejahteraannya. Hal itu dikatakan Bupati disela-sela meninjau panen sapi hasil program Inseminasi Buatan ( IB ) di Desa Keblukan Kecamatan Kaloran Selasa ( 4/8 ) Selain itu juga meninjaun beberapa usaha peternakan  sapi milik warga di Desa Klepu dan Desa Sanggarahan Kecamatan Kranggan. Dalam peninjaua tersebut Bupati didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan dr Hewan  Wisnu Wihadi dan Camat Kaloran Witarso, S Sos serta Camat Kranggan Drs. Satriya Indra Basuki, S Sos. Usaha peternakan yang ditinjau meliputi budidaya pembibitan sapi Kelompok Tani Ternak Ngudi Makmur Keblukan, Ngudi Raharjo Klepu  dan Sumber Makmur Sanggarahan. Baca Lanjutannya…

Sumber: http://www.temanggungkab.go.id/index.php


kopibbkTEMANGGUNG, Kabupaten Temanggung merupakan salah satu sentra tanaman kopi dan penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Daerah sentra kopi terdapat di Kecamatan Candiroto, Kandangan, Bejen, Jumo dan Wonoboyo. Musim panen kopi terdapat pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Kopi Temanggung memiliki kualitas yang baik dan banyak dibutuhkan oleh pabrik dan bernilai eksport.
Sebagian besar kopi Temanggung dijual dalam bentuk biji oleh para petani. Dan hanya sedikit saja yang mengolah dalam bentuk kopi bubuk yang siap untuk dibuat minuman. Kurangnya minat para petani untuk menjual kopi dalam bentuk kopi bubuk disebabkan antara lain karena penjualan dalam bentuk biji lebih mudah dan langsung mendapatkan keuntungan. Sementara untuk membuat kopi bubuk dibutuhkan modal, waktu dan keahlian tertentu.
Lain halnya bagi Heru Prayitno salah seorang petani kopi asal Desa Mento Kecamatan Candiroto. Sejak Tahun 2002 ia sudah menekuni pembuatan kopi bubuk. Laki-laki yang penah mendapat sertifikat dalam Uji Cita Rasa Kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Tahun 2005 ini terus mengembangkan kopi bubuk yang memiliki cita rasa khas. Bersama dengan 10 orang lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Akur II Desa Mento telah berhasil memproduksi kopi bubuk kemasan dengan merk Kopi Bubuk “Robusta”. Baca Lanjutannya…

Oleh: RD | Juli 24, 2009

Desa Sentra Jamur di Temanggung

Sumber: http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=159

TEMANGGUNG: Pelaksanaan kegiatan padat karya pembangunan sarana prasarana ekonomi produktif di Kabupaten Temanggung secara keseluruhan telah selesai dilaksanakan pada 17 Juli 2009. Kegiatan yang berbasis pada penyerapan tenaga kerja itu berhasil memberikan penghasilan sementara kepada 54.400 tenaga kerja. Diharapkan, dengan selesainya pembangunan sarana prasana tersebut masyarakat akan semakin mampu berwirausaha untuk mencari terobosan baru guna menciptakan perekonomian dan tingkat pendapatan keluarga yang semakin mapan. “ Contohnya ini. Perawatan jamur yang tidak terlalu sulit, hanya butuh menjaga kelembaban tertentu dan dalam skala kecil bisa di budidayakan dirumah, sudah mampu mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit” kata Wakil Bupati Temanggung, Ir. Budiarto,MT, mewakili Bupati pada peresmian Kumbung jamur di desa Gentingsari Kecamatan Bansari yang ditandai pembukaan tirai prasasti. (21/7).

Baca Lanjutannya…

Kami membuka peluang bagi investor untuk melakukan kerjasama dengan kami untuk melakukan usaha agribisnis ternak domba tersebut. Berikut paparan singkat kami.

EXECUTIVE SUMMARY

Sejak dulu domba dikenal sebagai penghasil daging yang sangat disenangi oleh masyarakat Indonesia. Usaha agribisnis penggemukan domba ini terintegrasi dengan usaha pemotongan (jagal) untuk memenuhi kebutuhan restoran, rumah makan dan warung sate, perdagangan ternak hidup, serta unit usaha layanan jasa aqiqah dan penyediaan hewan qurban. Tempat usaha akan didirikan di Kecamatan Pringsurat Temanggung, tepatnya di jalan alternatif Kranggan-Pringsurat km 2. Pemilihan lokasi ini didasari atas kedekatan dan mudahnya akses ke kota-kota besar sebagai wilayah target konsumen seperti Temangung, Magelang, Semarang dan Jogjakarta. Selain itu, target pasar lainya yang potensial adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan daging domba untuk wilayah JABODETABEK dengan melakukan kerjasama pemasaran dengan rekanan di wilayah tersebut….dst.

Bagi anda yang tertarik dengan usaha tersebut, silakan download link berikut untuk mendapatkan gambaran usaha secara lengkap: Proposal Usaha, Rincian biaya investasi, Aspek teknis usaha, dan Analisis cashflow.

BAB 1. PENDAHULUAN

Program swasembada daging nasional pada dasarnya adalah kegiatan peningkatan populasi ternak dalam negeri, khususnya ternak sapi, sehingga pada akhirnya dapat memenuhi konsumsi daging secara nasional. Keberhasilan program tersebut akan berimplikasi pada menurunya presentase impor sapi (baik sapi hidup atau daging beku), sehingga dimasa mendatang secara perlahan akan mencapai tahap swasembada. Saat ini Indonesia masih tergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan akan daging sapi. Ketergantungan impor daging dan sapi potong, antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan memenuhi kebutuhan permintaan daging dari pemotongan sapi lokal yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan daging. Pemenuhan permintaan daging sapi bila hanya dipenuhi melalui pemotongan sapi lokal, maka dapat berakibat terjadi pengurasan populasi sapi lokal, karena terjadi pemotongan terhadap sapi muda yang ukurannya masih kecil dan terhadap sapi betina produktif. Oleh karena itu diperlukan program usaha pembibitan sapi secara nasional sebagai sumber bakalan untuk penggemukan sapi.

Untuk contoh proposal secara lengkap, silakan download link berikut: proposal smd 2009, Lampiran 1, Lampiran 2, Lampiran 3, Lampiran 4

Oleh: Rohmat Diyono

Jurusan Ilmu Produksi Ternak Fakultas Peternakan IPB

Pembimbing Utama       : Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc

Pembimbing Anggota    : Dr. Ir. Achmad Farajallah, M.Si

Domba lokal di Indonesia mempunyai produktivitas yang rendah, terutama sifat pertumbuhan dan kualitas daging. Peningkatan produktivitas domba tersebut dapat dilakukan melalui upaya seleksi berdasarkan pada penciri DNA yang disebut dengan Marker Assisted Selection (MAS). Calpastatin merupakan gen yang berfungsi untuk menghambat proses degradasi protein sel otot. Gen calpastatin diduga terkait dengan sifat pertumbuhan otot dan keempukan daging pada mamalia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman gen calpastatin pada domba lokal (Ovis aries) dan menganalisis hubungan antara genotipe gen calpastatin dengan bobot badan.

Sampel darah domba yang digunakan berjumlah 288 sampel yang terdiri dari Domba Ekor Tipis (DET) Jonggol (36), domba Garut Ciomas (29), domba Garut Margawati (29), Domba Ekor Gemuk (DEG) Indramayu (43), DEG Madura (43), 46 DEG Donggala (46), DEG Sumbawa (26), dan DEG Rote (36). Amplifikasi gen calpastatin dilakukan dengan Teknik PCR, sedangkan untuk menentukan genotipenya dilakukan dengan teknik Restriction Fragment Length Polymorphisms (RFLP) dengan enzim restriksi MspI. Analisis hubungan antara genotipe gen calpastatin dengan bobot badan domba dilakukan dengan metode General Linear Model SAS 6.12. Baca Lanjutannya…

Oleh: RD | Juli 22, 2009

Peluang Usaha Penggemukan Sapi

Usaha penggemukan sapi ini berskala 10 sampai 20 ekor sapi dengan bobot awal antara 350 kg/ekor. Penggemukan dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan, sehingga diharapkan dapat melakukan usaha penggemukan sebanyak 4 periode dalam satu tahun.  Target pencapaian bobot badan harian (PBBH) adalah 1,2-1,6 kg per ekor. Sehingga pada akhir periode penggemukan bobot sapi yang diharapkan mencapai 458-495 kg/ekor. Usaha akan dilakukan di wilayah kabupaten Temanggung. Di Temanggung selain pakan mudah didapat, lahan pemeliharaannya tersedia cukup banyak. Potensi lainnya, pakan tambahan seperti bekatul padi, bekatul jagung, ketela pohon, ampas ketela, ampas tahu, kulit kopi dan lain-lain banyak didapat dan relative murah. Investasi awal yang diperlukan untuk usaha penggemukan sapi skala 20 ekor sebesar Rp. 271.050.000,-. Keuntungan yang bisa diperoleh sebesar Rp. Rp. 35.400.000,- selama satu periode penggemukan (3 bulan) atau Rp. 11.800.000,- per-bulan. Demikian proposal usaha ini kami buat, semoga jalinan kerjasama dapat terlaksana dengan baik.

Bagi para pengunjung yang tertarik, kami menyediakan prosal legkap. Silakan klik lingk berikut: Proposal, aspek teknis, analisis cashflow.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori