Feeds:
Pos
Komentar

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pembibitan domba, sebaiknya kita pahami dahulu apa sebenarnya pengertian dari pembibitan itu sendiri. Saat ini secara umum, pengertian pembibitan masih dicampurkan dengan pengertian perkembangbiakan atau budidaya, padahal secara kaidah ilmiah artinya sangat berbeda. Pembibitan mempunyai arti lebih khusus dari pada perkembangbiakan. Pembibitan adalah upaya reproduksi hewan ternak disertai dengan seleksi untuk mendapatkan keturunan atau anakan yang bagus. Pembibitan disebut juga sebagai pemuliaan ternak. Saat ini terdapat pengertian salah kaprah bahwa setiap ternak jantan atau betina yang masih mampu melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan disebut sebagai bibit sehingga muncul bibit unggul dan bibit jelek. Padahal seharusnya yang disebut dengan ternak bibit adalah ternak jantan atau betina yang memiliki persyaratan tertentu atau telah melalui proses seleksi untuk selanjutnya dapat dikembangbiakkan. Artinya ternak yang jelek atau tidak memenuhi persyaratan tertentu tidak boleh digunakan sebagai bibit.
Istilah pembibitan ini sering kita jumpai dalam berbagai tulisan baik ilmiah maupun tidak, dalam diskusi maupun pendapat seseorang. Sebagai contoh, “pembibitan domba di Indonesia di dominasi oleh peternak rakyat dengan skala usaha kecil, manajemen dan pakan seadanya serta sarana dan prasarana sangat minim”. Penggunaan istilah pembibitan seperti kalimat diatas sudah sangat umum dan sangat salah kaprah. Kata pembibitan dalam kalimat diatas lebih tepatnya diganti dengan kata perkembangbiakan atau kegiatan budidaya. Karena memang kegiatan yang dilakukan oleh para petani/peternak kecil tidak ditujukan untuk menghasilkan anakan yang bagus dengan menggunakan ternak jantan dan betina seadanya. Kalaupun ada beberapa peternak yang sudah melakukannya, kebanyakan anakan tersebut dijual. Bahkan yang terjadi pada populasi ternak domba secara nasional, cenderung telah terjadi seleksi negatif yaitu kegiatan menjual dan memotong ternak yang secara ukuran tubuh besar dan disisakan yang ukuran tubuh kecil. Hal ini terjadi karena memang tingginya permintaan pasar, disisi lain peternak menjual ternaknya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Akibatnya saat ini semakin sulit untuk mencari anakan/bakalan dengan kualitas yang bagus.
Sulitnya mendapatkan bakalan yang bagus dan harga yang semakin mahal, rupanya membuat para peternak penggemukan domba banyak yang beralih menggarap pembibitan domba. Ini merupakan hal yang sangat positif. Karena para pengusaha ini tadinya hanya mengejar perputaran uang yang cepat, tapi sekarang mulai melirik usaha pembibitan yang notabenenya perputaran modalnya lambat. Namun demikian, adanya geliat untuk menggarap pembibitan ini tentunya harus disertai dengan ilmu dan seni. Ilmu pembibitan berkaitan dengan bagaimana program seleksi dilakukan secara terarah sehingga tercapai tujuan pembibitan yang diharapkan. Sedangkan seni dalam pembibitan domba berkaitan dengan pemberian pakan, perkandangan dan manajemen secara umum. Disebut seni karena hal-hal tersebut sifatnya sesuai selera masing-masing peternak dan tidak akan kita bahas lebih lanjut. InsyaAlloh ke depan saya akan bahas mengenai ilmu pembibitan ternak, khususnya ternak domba yaitu bagaimana melakukan pembibitan domba secara terarah.

Sumber: haryanto_ilyasa@yahoo.co.id (Milis Forum Peternak Sapi Indonesia)

Y&Y_Wagyu+bullSetelah menunggu lebih dari dua tahun, akhirnya proyek penggemukan sapi senilai 4 juta dolar AS yang ditawarkan dalam Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2006 bisa direalisasikan tahun ini. Tarik ulur para investor asing menjadi persoalan untuk bisa menggaet investasi baru khususnya di bidang agrobisnis. Salah satu investor Australia perwakilan THP Group Robert Murdoch mengakui, persoalan investasi di Indonesia selalu dibayangi dengan kerumitan perbedaan budaya, masalah lahan dan izin birokrasi yang sangat berbelit. Proyek penggemukan sapi ini adalah satu di antara sekian banyak proyek yang berhasil terealisasi lewat sebuah forum bisnis CJIBF yang diakui kredibilitasnya.  Robert menilai, meski nilai jutaan dolar yang ditanamkan dinilai masih relatif kecil, tapi tetap saja pemerintah Australia memberikan apresiasi positif. Apalagi Pemprov Jateng yang terus mendesak program ini bisa segera terealisasi. Sebelumnya Gubernur Bibit Waluyo menginginkan setidaknya dalam dua bulan ke depan, tahap awal penggemukan sapi yang dikonsentrasikan di Kab Temanggung ini bisa dikerjakan. Lanjut Baca »

Sumber : Kompas 31 Juli 2009

Temanggung, Kompas – Pusat pembibitan sapi wagyu di Kabupaten Temanggung akan disebar di tiga lokasi. Ketiga tempat tersebut adalah Medari di Kecamatan Ngadirejo, dan daerah Maron serta Walitelon di Kecamatan Temanggung. Bupati Temanggung Hasyim Affandi mengatakan, ketiga lokasi ini sudah dipilih dan disetujui oleh pihak rekanan yang merupakan investor dari Australia. “Lokasi di Walitelon nanti dapat dijadikan sebagai kandang dan pabrik pakan mini. Lokasi di Maron dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium dan etalase sapi, areal sisanya dapat dimanfaatkan sebagai lahan yang menghasilkan hijauan untuk pakan ternak,” ujar Hasyim, Jumat (31/7). Lanjut Baca »

Sumber : http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=176

TEMANGGUNG, Dampak kekeringan yang melanda Kabupaten Temanggung  tahun ini, tidak saja dirasakan warga  sejumlah desa yang kesulitan mendapatkan air bersih. Namun sejumlah peternak kambing dan sapi  juga sudah mulai kesulitan mendapatkan rumput. Akibatnya  pertenak  terpaksa memberi pakan hewan piaraanya dengan daun pohon karet  yang  ada pinggir jalan desa. Hal itu sebagaimana dilakukan peternak di Desa Sanggarahan Kecamatan Kranggan. Pohon karet yang daunnya dimanfaatkan oleh peternak, sesunguhnya merupakan pohon ayoman pinggir jalan. Namun terpaksa  dipetik daunnya  untuk pakan ternak baik kambing maupun sapi. Para  peternak  setiap hari memanjat pohon karet tersebut untuk  memotong daun-daunnya  yang rimbun menggunakan galah dan sabit. Pekerjaan ini sebenarnya beresiko, bila sewatu-waktu saat memanjat jatuh. Akan tetapi peternak  sudah terbiasa, sehingga tidak takut akan resiko jatuh. Lanjut Baca »

Sumber:   http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=174

TEMANGGUNG, Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi mengemukakan, usaha peternakan  sapi  menjanjikan keuntungan yang lumayan  besar manakala dikelola secara  baik dan benar. Dengan demikian  melalui kegiatan usaha peternakan warga berpeluang mendapat penghasilan guna meningkatkan kesejahteraannya. Hal itu dikatakan Bupati disela-sela meninjau panen sapi hasil program Inseminasi Buatan ( IB ) di Desa Keblukan Kecamatan Kaloran Selasa ( 4/8 ) Selain itu juga meninjaun beberapa usaha peternakan  sapi milik warga di Desa Klepu dan Desa Sanggarahan Kecamatan Kranggan. Dalam peninjaua tersebut Bupati didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan dr Hewan  Wisnu Wihadi dan Camat Kaloran Witarso, S Sos serta Camat Kranggan Drs. Satriya Indra Basuki, S Sos. Usaha peternakan yang ditinjau meliputi budidaya pembibitan sapi Kelompok Tani Ternak Ngudi Makmur Keblukan, Ngudi Raharjo Klepu  dan Sumber Makmur Sanggarahan. Lanjut Baca »

Sumber: http://www.temanggungkab.go.id/index.php


kopibbkTEMANGGUNG, Kabupaten Temanggung merupakan salah satu sentra tanaman kopi dan penghasil kopi terbesar di Jawa Tengah. Daerah sentra kopi terdapat di Kecamatan Candiroto, Kandangan, Bejen, Jumo dan Wonoboyo. Musim panen kopi terdapat pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Kopi Temanggung memiliki kualitas yang baik dan banyak dibutuhkan oleh pabrik dan bernilai eksport.
Sebagian besar kopi Temanggung dijual dalam bentuk biji oleh para petani. Dan hanya sedikit saja yang mengolah dalam bentuk kopi bubuk yang siap untuk dibuat minuman. Kurangnya minat para petani untuk menjual kopi dalam bentuk kopi bubuk disebabkan antara lain karena penjualan dalam bentuk biji lebih mudah dan langsung mendapatkan keuntungan. Sementara untuk membuat kopi bubuk dibutuhkan modal, waktu dan keahlian tertentu.
Lain halnya bagi Heru Prayitno salah seorang petani kopi asal Desa Mento Kecamatan Candiroto. Sejak Tahun 2002 ia sudah menekuni pembuatan kopi bubuk. Laki-laki yang penah mendapat sertifikat dalam Uji Cita Rasa Kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Tahun 2005 ini terus mengembangkan kopi bubuk yang memiliki cita rasa khas. Bersama dengan 10 orang lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Akur II Desa Mento telah berhasil memproduksi kopi bubuk kemasan dengan merk Kopi Bubuk “Robusta”. Lanjut Baca »

Sumber: http://www.temanggungkab.go.id/detailberita.php?bid=159

TEMANGGUNG: Pelaksanaan kegiatan padat karya pembangunan sarana prasarana ekonomi produktif di Kabupaten Temanggung secara keseluruhan telah selesai dilaksanakan pada 17 Juli 2009. Kegiatan yang berbasis pada penyerapan tenaga kerja itu berhasil memberikan penghasilan sementara kepada 54.400 tenaga kerja. Diharapkan, dengan selesainya pembangunan sarana prasana tersebut masyarakat akan semakin mampu berwirausaha untuk mencari terobosan baru guna menciptakan perekonomian dan tingkat pendapatan keluarga yang semakin mapan. “ Contohnya ini. Perawatan jamur yang tidak terlalu sulit, hanya butuh menjaga kelembaban tertentu dan dalam skala kecil bisa di budidayakan dirumah, sudah mampu mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit” kata Wakil Bupati Temanggung, Ir. Budiarto,MT, mewakili Bupati pada peresmian Kumbung jamur di desa Gentingsari Kecamatan Bansari yang ditandai pembukaan tirai prasasti. (21/7).

Lanjut Baca »